Berita Detail

Strategi Transformasi Digital Indonesia, AI dan Semikonduktor Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi

Admin
2025-08-11 21:04:00

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi global. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), semikonduktor, dan inovasi berbasis teknologi kini menjadi faktor kunci untuk meningkatkan daya saing dan menciptakan pemerataan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“AI adalah alat yang sangat kuat, tetapi harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara luas tanpa mengorbankan keamanan dan etika,” tegas Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Pujo Setio, dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 yang mengusung tema Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi, Sabtu (9/08).

Dalam kesempatan tersebut, Sesdep Pujo memaparkan strategi, kebijakan, dan program unggulan yang dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia di rantai nilai global, khususnya di sektor teknologi AI dan semikonduktor melalui percepatan transformasi ekonomi digital.

Selanjutnya, Pemerintah telah menetapkan target pengembangan ekonomi digital hingga tahun 2030 dengan berlandaskan enam pilar utama yang mencakup penguatan infrastruktur konektivitas, pengembangan sumber daya manusia yang kompeten, penciptaan ekosistem bisnis dan keamanan siber, peningkatan riset dan inovasi, peningkatan pendanaan dan investasi yang kondusif, serta pembentukan kebijakan dan regulasi yang adaptif.

Dalam rangka mewujudkan target tersebut, Pemerintah telah menggulirkan berbagai langkah strategis, diantaranya yakni pembentukan Konsorsium AI untuk Perdagangan yang memanfaatkan generative AI dalam analisis tren perdagangan, proyeksi pasar, dan mitigasi risiko global. Upaya selanjutnya adalah penguatan Konsorsium E-Commerce untuk membangun basis data terintegrasi serta memanfaatkan AI dan big data dalam mendeteksi anomali pasar, melindungi konsumen, dan mencegah pemalsuan produk. Tak hanya itu, Pemerintah juga mengembangkan Konsorsium Keamanan Siber (IPPAS) yang mengintegrasikan data berbasis blockchain sekaligus membentuk talenta keamanan siber nasional. Seluruh inisiatif ini memerlukan kolaborasi erat antara Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

Lebih lanjut, dalam konteks pengembangan sumber daya manusia dalam ekonomi digital, kebutuhan akan talenta digital di Indonesia menunjukkan tren meningkat dan proyeksi kesenjangan talenta digital diperkirakan akan menurun dengan rata-rata sebesar 6,91 persen per tahun seiring meningkatnya ketersediaan talenta digital. Pemerintah juga mendorong Program Pengembangan Talenta Digital Berbasis Proyek untuk menjembatani kesenjangan kompetensi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia digital.

Dalam kerangka kerja sama regional, Indonesia aktif mendorong percepatan pengembangan ekosistem ekonomi digital melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Perjanjian ini bertujuan mempercepat transformasi ASEAN menjadi kawasan ekonomi digital terkemuka dan sebagai peta jalan strategis yang komprehensif untuk mengatasi kompleksitas, serta memanfaatkan peluang ekonomi digital di kawasan. Berdasarkan proyeksi, ekonomi digital ASEAN diperkirakan akan tumbuh tiga kali lipat menjadi lebih dari USD 1 triliun pada 2030, dan dengan implementasi DEFA yang efektif, nilai tersebut berpotensi meningkat hingga sekitar USD 2 triliun.

"Generasi muda kita, khususnya kelompok millenial dan generasi Z adalah aset terbesar bangsa yang berpola creative, confident, dan connected. Dengan pembekalan keterampilan digital dan pemanfaatan Al yang tepat, mereka dapat menjadi penggerak utama inovasi dan pertumbuhan ekonomi kreatif," pungkas Sesdep Pujo.

Pemerintah optimis bahwa melalui langkah-langkah strategis dalam transformasi digital, Indonesia dapat mempercepat adopsi teknologi strategis serta memperkuat daya saing industri nasional di tengah persaingan ekonomi global. Hal lain yang perlu disiapkan adalah menguatkan talenta digital bagi generasi muda dan usia produktif, serta meningkatkan literasi digital bagi seluruh masyarakat. (dep3/nov/fsr)

***